Jumat, 26 Juli 2013

SEJARAH MADURA

Keadaan Alam Serta Keiudupan Sosial Ekonomi Di Madura Pada Zaman Dahulu Kala
Pulau Madura terletak di sebelah Tirnur Laut Pulau Jawa, pada titik 7° Lintang Utara/ 112414 Bujur Timur. Panjang pulau Madura kurang lebih 190 KM. bias seluruhnya ± 5.305 KM2, dan banyak pulau kecil di sekitarnya. Secara geologi pulau Madura merupakan bagian dad unsur daratan utara pulau Jawa. Daerah mi merupakan kelanjutan dad alur pegunungan kapur yang teletak di bagian Utara dan Selatan lembah Solo. Bagian terbesar dari pulau Madura térdiri atas perbukitan cadas yang tinggi dengan punggung-punggung kapur yang lebar. Bukit-bukit bagian barat Madura jarang yang berketinggian Iebih dari 200 m, sedangkan puncak tertinggi di bagian timur Madura adalah gunung Gadu 314 m, gunung Marangan 398 m, dan gunung Tembuku 471 m. Iklim di Madura bercirikan dua musim, yakni musim Barat atau musim Hujan dan musim Timur atau musim Kemarau.
Namun curah hujan tertinggi di pulau tersebut pada tiap bulannya rata-rata tidak melebihi dari 200 mm. Suhu di pulau Madura pada umumnya tinggi. Pada musim barat suhu rata-rata 28°C, sedangkan pada musim timur mencapai 35o
Kehidupan sosial-ekonomi pada zaman dahulu kala ialah dalam era kekuasaan raja-raja Madura sendiri, keadaan rakyatnya makmur. Banyak sumber-sumber air yang mengalirkan airnya ke sawah-sawah dan Iadang-Iadang. Hutan jati melintang dan Aroshbaya di Bangkalan sampai ke Batang-Batang di Surnenep. Musim hujan Iebih lama dari musim kemarau. Kecuali padi dan jagung ditanam juga kapas. Pemintalan kapas tersebar di mana-mana. Sarung yang dihasilkan dan permintalan tersebut “sarong poleng”.
Tentang kemakmuran pulau Madura pernah dilaporkan oeh Gubernur Jenderal Kompeni Maetsuyker kepada Dewan 17 di negeri Belanda, bahwa pulau Madura adalah pulau yang makmur. Bupati Sampang waktu itu melaporkan bahwa di daerahnya ada hutan yang lebat. Cerita “Bangsacara dan Ragapadmi” yang ditulis oleh seorang pujangga Madura mengemukakan tentang adanya kijang dan rusa yang berkeharan di Pulau Kambing, adanya hutan yang kehijau-hijauan dikelilingi oleh laut yang airnya bercorak biru seperti beludru.
Cultuurstelsel ciptaan Van den Bosch dihapus karena Belanda ingin menerapkan liberalisme. Tetapi untuk memperoleh tenaga buruh yang murah maka diterapkan politik kemiskinan dan kebodohan. Rakyat diizinkan menebang pohon jati sebanyak-banyaknya. Dalam tempo yang singkat, hutan jati yang melintang dari Bangkalan sampai Sumenep habis ditebang. Akibatnya tiap tahun air hujan membawa erosi bermilyun-milyun M3 ke laut dan sawah menjadi rusak tidak dapat ditanami. Rakyat yang tadinya hidup makmur tidak kurang sandang pangan, menjadi miskin. Sampang setiap tahunnya mengalami banjir, pada musim paceklik rakyatnya menderita kelaparan.
Dengan politik kemiskinan dan kebodohan ini hanya Belandalah yang beruntung, ialah mendapat tenaga murah untuk dipekerjakan di perkebunan-penkebunannya di daerah Jawa Timur.
Madura Menurut Catatan Sejarah
Sebelum abad ke-18. Madura terdiri dari kerajaan-kerajaan yang saling bersaingan, akan tetapi sering pula bersatu kembali dengan melaksanakan politik perkawinan. Di antaranya kerajaan-kerajaan tersebut ialah: Arosbaya, Blega, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Di samping itu kerajaan-kerajaan di Madura berada di bawah supremasi dan kerajaan yang lebih besar yang kekuasaannya benpusat di Jawa. Antara tahun 1100-1700, kerajaan-kerajaan itu berada di bawah supremasi kerajaan- kerajaan Hindu di Jawa Timur, kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Demak dan Surabaya, dan kerajaan Mataram di Jawa Tengah.
Pada pertengahan abad ke-18, Madura berada di bawah pengaruh VOC / Kompeni
Belanda.  Setelah Kompeni dibubarkan pada tahun 1879, Madura dengan berangsur-angsur menjadi bagian negara Kolonial Belanda sampai dengan masa pendudukan Bala Tentara Jepang.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, pulau Madura berstatus sebagai Karesidenan dalam Provinsi Jawa Timur. Pada akhir tahun 1947, Madura diduduki kembali oleh Pemerintah penjajah Belanda. Untuk memperkuat cengkeramannya atas Pulau Madura, seperti halnya terhadap daerah lain nya di Indonesia yang didudukinya, pada tahun 1948 Pemerintah Penjajah Belanda membentuk Negara Madura. Status sebagai negara tersebut berlangsung sampai kurun waktu pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat pada tahun 1949-1950, oleh Belanda.
Dalam Negara republik Indonesia Serikat (RIS), Madura merupakan salah satu Negara Bagian bersama-sama dengan Negara-negara Bagian Iainnya, seperti Republik Indonesia Yogyakarta, Indonesia Timur, Pasundan, Sumatera Timur, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Barat. Status Madura di dalam wadah RIS hanya berusia pendek, karena pada tahun 1950 itu juga rakyat Madura telah membubarkan Parlemen dan Negara Madura, dan kemhali bergahung dengan Republik Indonesia kesatuan di Yogyakarta.
Semangat Berjuang Melawan Penindasan dan Penjajahan

Musholla As-Syuhada di Desa Kelempar,
Sejak zarnan dahulu kala, orang-orang Madura memiliki semangat untuk melawan segala bentuk penindasan dan penjajahan baik yang dilakukan oleh kekuasaan dan kekuatan dan dalam Madura sendiri maupun oleh kekuasaan dan kekuatan dan luar. Hal itu dapat kita ketahui baik dan legenda-legenda yang berkembang di kalangan rakyat Madura maupun buku-buku/ tulisan-tulisan dan laporan-laporan penguasa yang pernah memerintah pulau Madura.
Menurut ceritera zaman kuno (± abad pertama Masehi), yang ditulis diatas daun lontar, pada suatu saat kerajaan Mendangkemulan kedatangan musuh dari negeri Cina. Di dalam peperangan tersebut Mendangkemulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga rakyatnya hampir musnah terbunuh. Pada suatu malam rajanya bermimpi kedatangan seseorang yang sangat tua dan berkata bahwa di pulau Madu-oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Sagoro (sagoro-laut). Raja dianjurkan minta bantuan kepada Raden Sagoro jika di dalam peperangan ingin menang. Raden Sagoro berangkat dengan membawa senjata Si Nenggolo dan berperanglah untuk mengusir tentara Cina. Tentara musuh banyak yang tewas dan kerajaan Mendangkemulan menang dalam peperangan.
Ceritera lain tentang kepahlawanan orang-orang Madura, ialah terjadi di sekitar berdirinya kerajaan Majapahit dalam ahad ke-13, orang Maduralah yang membuka hutan Tarik dan mendapat buah maja yang pahit, sehingga daerah baru tersebut disebut Majapahit.
Tokoh-tokoh Madura diantaranya ialah: Wiraraja, Lembu Sora, Ranggalawe, yang membantu Raden Wijaya sehingga mencapai puncak keberhasilannya dalam mendirikan kerajaan. Sewaktu Raden Wijaya dikejar oleh tentara Jayakatwang dan kerajaan Singosari mulai runtuh, ia mengungsi ke Sumenep minta perlindungan dan bantuan kepada Raden Wiraraja dan sang Adipati Madura inilah yang menyusun rencana agar Raden Wijaya pewaris tahta kerajaan Singosari dapat kembali berkuasa. Memang Wiraraja atau yang disebut Banyak Wide adalah aktor intelektualis memenangkan perang terhadap tentara Tartar yang dikirim oleh Kubelai Khan untuk menaklukkari kerajaan Jawa. Tentara Tartar mengalahkan kerajaan Jayakatwang Kediri, tetapi tentara Tartar ini pula dihancurkan oleh Raden Wijaya dengan bantuan orang-orang Madura yang bersemangat tinggi berperang untuk mengusir musuh.
Peristiwa lain ialah terjadi di sekitar abad ke-15, ketika Dempo Awang (Sam Poo Tualang) seorang Panglirna Perang dari negeri Cina menunjukkan kekuatannya kepada raja-raja di Jawa dan Madura, agar mereka tunduk kepadanya. Di dalam peperangan itu, Jokotole dan Madura melawan Dempo Awang yang menaiki kapal layar yang dapat berlayar di laut, di atas gunung di antara bumi dan langit. Demikian menurut ceritera legenda.
Dalam peperangan itu Jokotole mengendarai Kuda Terbang. Pada suatu saat setelah Ia mendengar suara dan pamannya (Adirasa), yang berkata “pukul”, maka Jokotole menahan kekang kudanya dengan keras dan ia menoleh sambil memukulkan cemeti (cambuknya) yang mengenai musuhnya sehingga hancur luluh jatuh berantakan.
Menurut kepercayaan orang Jawa Tengah, khususnya Semarang, kapal Dempo Awang tenggelam di perairan Semarang. Dan diceriterakan pula bahwa Sam Poo Tualang tersebut ialah seorang Laksamana Cina yang bernama Cheng Hoo.
Sewaktu Sultan Agung memimpin Mataram, ia menjalankan politik pemenintaln untuk mempersatukan Jawa dan Madura, bahkan ingin mempersatukan seluruh kepulauan Nusantara, agar Kompeni sukar melebarkan sayapnya. karena itu Sultan Agung kadang-kadang menjalank2tn politik kekerasan. Dalam tahun 1614 Surabaya ditaklukkan, demikian pula Pasuruan dan Tuban. Akhirnya dalam tahun 1624, Madura mendapat giliran. Pendekatan yang kurang bijaksana rnenimbulkan peperangan yang dahsyat. Tentara Madura yang berjumlah 2000 orang melawan pasukan Mataram yang berjumlah 50.000 orang.
Perjuangan rakyat Madura menunjukkan keberanian yang luar biasa. Baik pria maupun wanitanya maju ke garis depan. Sebanyak 6000 orang tentara Mataram dapat ditewaskan, tetapi Sultan Agung tidak putus asa, yang gugur segera diganti. Akhirnya Madura dapat ditaklukkan. Satu-satunYa keturunan raja Madura yang masih hidup ialah Raden Praseno yang masih belum dewasa. Ia dibawa ke Mataram oleb Sultan Agung dan setelah dewasa dikawinkan dengan salah seorang putri adik Raja Mataram. Dalam zaman Sultan Agung, Mataram ditakuti oleh Kompeni Belanda, tetapi setelah Amangkurat I berkuasa, Kompeni menjalankan poliitik pecah belah dan Amangkurat I tidak mempunyai kewibawaan.
Pangeran Alit (adiknya sendiri) dicurigai dan diperintahkan untuk ditangkap dan dibunuh. Raden Maluyo ayah dari Trunojoyo juga menjadi korban. Akhirnya juga Cakraningrat I (Raden Praseno), penasehat umum kerajaan menjadi korban pembersihan.
Orang yang ditunggu-tunggu untuk memimpin perlawanan akhirnya muncul, ialah Raden Trunjoyo. Trunojoyo maju ke depan hanya karena terdorong untuk membasmi ketidakadilan, kemungkaran dan anti penjajahan. Bukan kekuasaan dan kedudukan yang menjadi tujuan hidup Trunojoyo, dan ini terbukti waktu mahkota kerajaan Majapahit ada di tangan kekuasaannya. Mahkota ini secara turun-temurun jatuh ke tangan raja-raja yang menguasai Jawa. Trunojoyo tidak pernah menempatkan mahkota Majapahit di atas Kepalanya, pun juga tidak pernah menamakan dirinya sebagai Susuhunan. Mahkota yang ada padanya akan dikembalikan kepada Susuhunan, asal saja Susuhunan mau ke Kediri dengan tidak berteman Belanda. Artinya: Amangkurat II diminta untuk memutuskan hubungannya dengan Belanda.
Dalam abad ke-18 Kompeni Belanda mengadakan pembatasan-pembatasan serta penindasan-penindasan yang makin merajalela terhadap kekuasaan raja-raja dan rakyat Madura, sehingga di Madura Barat telah terjadi suatu perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Cakraningrat IV. Tetapi perlawanan tersebut dapat dlpatahkan karena Kompeni mendatangkan bala bantuan dari Batavia. Cakraningrat IV terus menyingkir ke Banjarmasin, tetapi akhirnya tertangkap pula di sana. Cakraningrat IV terus dikirim ke Kaap de Goede Hoop, dan ia meninggal dunia dalam tahun 1759. Orang Madura memberinya nama Pangerang Sidingkap, karena Cakraningrat IV meninggal dunia di pengasingannya, ialah di Kaap de Goeede I loop.
Dalam masa pemerintahan Jepang, sejak tanggal 18 Maret 1942, kekejaman tentara Jepang yang menginjak-iniak nilai dan martahat rakyat Madura, serta  angkaramurkaannYa telah menimbulkan penderitaan yang membebani rakyat, sehingga pada tahun 1943 telah berkobar suatu pemberontakan di desa Prajan, Sampang, dipimpin pesantren setempat. Kemudian ia serta pemimpin-pemin pesantren lainnya ditangkap dan ditembak mati. Akhirnya atas campur tangan Panglima Tentara Jepang (Seiko Sikikan) di Jakarta, mereka yang masih ditahan dihebaskan kembali dan pembantaian lebih lanjut dapat dihentikan.
Pulau Madura dan Penduduknya Ditinjau dari Segi Kepentingan Militer dan Pemerintahan
Mengacu kepada pengalaman kerajaan Majapahit, sampai dengan abad ke-16, baik pemerintah jajahan Belanda maupun pemerintah jajahan Jepang, berpendapat bahwa penguasaan pulau Madura adalah sangat penting artinya, baik dalam rangka pengawasan dan pengamanan route pelayaran di sekitar perairan tersebut, maupun untuk melindungi dan mengamankan fasilitas serta instalasi kemiliteran yang dibangun di sekitar perairan pulau Madura.
Di samping itu letak pulau Madura yang hanya terpisah dan Jawa oleh selat Madura, merupakan tempat yang ideal untuk digunakan sebagal konsolidasi pasukan yang kelelahan dari daerah pertempuran di Jawa.
Kemanfaatan pulau Madura bagi kepentingan militer lebih menonjol lagi setelah pemenintah Jajahan, baik Belanda maupun Jepang menggunakan Surabaya sebagai pangkalan Kapal Perang (Marine Vlootbasis).
Schingga untuk melindungi pangkaian tersebut Belanda memperkuat kcmampuan pertahanan pulau Madura dengan menempatkan 3 Batalyon Infanteri, yang diperkuat dengan unsur-unsur bantuan tempur Iainnya. yang terdirl atas Artileri Pantai, Artileri Serangan Udara, Kesatuan Zeni dan Kesatuan Tank. Sedangkan pemrintah Jepang selain kekuatan militernya sendiri juga telah mcnempatkan 5 Batalyon/Daidan Tentara Peta (Pembela Tanah Air). Di samping itu, Batoporron di perbukitan Kamal dijadikan tempat penyimpanan peralatan penting Angkatan Laut mereka dan tempat pembuatan mesiu dan torpedo.
Dari segi kependudukan, menurut catatan statistik Hindia Belanda tahun 1930, suku bangsa Madura termasuk urutan ketiga dalam jumlahnya dengan perbandingan sebagai benikut:
Jawa 47,03 persen, Sunda 14,53 persen, Madura 728 persen, Minangkabau 3,36 persen, Bugis 2,59 persen, Batak 2,02 persen, Bali 1,88 persen, Betawi 1,66 persen, Melayu 1,6 persen, Banjar 1,52 persen, Aceh 1,41 persen, Palembang 1,30 persen, Makasar 1,09 persen, Toraja 0,94 persen dan lain-lain 9,54 persen. Oleh karena jumlah penduduk suku Madura termasuk ranking (urutan) ketiga banyaknya dan dari segi antropologi budaya, suku Madura mempunyai ciri-cirinya tersendiri, maka kaum penjajah memperhitungkan dalam politik devide et imperanya. Misalnya, Madura dijadikan Negara Bagian. Akan tetapi rakyat Madura tidak mau dlpecah-belah, karena itu negara Madura sebagai negara Boneka Belanda segera dapat dlbubarkan.
Di sini tercermin jati diri orang Madura tidak mau dipecah-belah dan tidak herambisi merebut kekuasaan. Cermin semacam itu telah terdapat pula dalam diri pribadi  Trunojoyo, ia tidak berambisi ingin berkuasa menjadi Susuhunan, ia hanya ingin Mataram jangan sampai mau diadu-domba oleh Belanda.

Sumber: http://lontarmadura.com/

0 komentar:

Posting Komentar